“Ouwhhh, anak buahnya Gayus yaa..”
“???$%#^@&#*)(??“
Gayus mwmberikan warna yg berbeda untuk kami. Sayang warna itu buram dan tak enak dipandang. Seampuh itukah kekuatan kasus seorang GAYUS TAMBUNAN mempengaruhi opini masyarakat tentang STAN? Entahlah, tapi itulah yg aku temui di masyarakat akhir2 ini. Tak tau kenapa eh kenapa judi itu haram [loh? Malah nyanyi]. Nggak tahu kenapa tapi media pun seperti ikut membentuk opini masyarakat tentang STAN.
STAN itu adalah sekolah pencetak para Koruptor.
Nggak tahu darimana opini ini berawal, tapi ini jelas tidak adil. Kadang diriku gondok juga jika ditanya seperti itu atau melihat suatu media membawa nama STAN dalam kasus Gayus Tambunan. Bahkan dalam suatu acara televisi, seorang presenter bertanya kepada seorang narasumber, “apakah di STAN itu benar ada mata kuliah pemutihan pajak?”. Meskipun itu tidak benar, tapi secara tidak langsung ucapan tersebut bisa saja mengubah opini masyarakat.
Yg saya heran di sini mengapa jadi nama STAN di bawa2. Apakah pelaku koruptor lain selain Gayus Tambunan [bahkan kasusnya lebih besar], dalam pemberitaannya membawa nama ALMAMATER?? “oh, koruptor ini dari universitas X, jadi universitas X itu penghasil korupsi ya” [bukan bermaksud menjelek2kan universitas lain]. Apakah itu pernah terdengar? Mungkin hanya STAN.
Kasus korupsi yg lumayan besar dan kebetulan dilakukan oleh alumni STAN ini dengan mudahnya membentuk opini masyarakat. Padahal korupsi itu sebenarnya tergantung dari diri kita masing2, tidak ada hubungannya dengan alumni dari mana.
Anda tahu orang munafik? Di dalam golongan orang Islam / orang iman, tidak semuanya Islam / Iman beneran, ada di dalamnya orang2 munafik yg kita akan sulit membedakannya dengan orang Islam yg benar2 Iman. Hal tersebut juga berlaku di sini. Dari ribuan mahasiswa STAN [atau bahkan universitas2 lain], mungkin memang ada yg mempunyai jiwa koruptor [orang munafik]. Diriku tidak memungkiri hal itu. Tapi yg baik yg benar2 ingin mencari ilmu?? Yg tidak punya jiwa korupsi?? Itu lebih banyak, saya “khusnudzon billah”. Dan itu tergantung dari diri mereka masing2.
Dan inti dari tulisan yg nggak jelas juntrungannya ini, yg morat marit kosakatanya, yg tidak tahu arahnya ke mana, hanyalah ingin menegaskan satu hal.
Di sini [STAN] kami tidak pernah diajarkan untuk KORUPSI. Dan kami juga tidak pernah di didik untuk menjadi seorang KORUPTOR.

